Archive

Posts Tagged ‘jalan-jalan’

Situ Babakan

August 15th, 2009

Setu atau Situ Babakan adalah Perkampungan yang penduduknya mayoritas orang Betawi asli yang dijadikan Cagar Budaya oleh pemerintah Jakarta demi kelestarian budaya Betawi yang semakin lama semakin terlupakan. Ironis memang, warga Betawi yang seharusnya mendominasi Jakarta justru jadi minoritas di kampung sendiri hehe..
Kenapa saya bilang kayak gitu? Karena keluarga besar bapak saya itu Betawi asli :D

Since saya ini punya darah Betawi, dan karena membaca postingan Mister Jalan-jalan ini, hati saya semakin tergerak untuk mengunjungi sodara-sodara saya disana (hihihi… apaan sih?) Alhamdulillah, akhirnya jadi juga saya kesonoh huehuehuehuehue

Situ Babakan with fruit (i dunno its name)
Situ Babakan with fruits

Berhubung kepagian, jadi pas nyampe sana masih sepi banget. Warung-warung masih banyak yang tutup, tapi penjual makanan di gerobak atau pikulan sudah mulai bermunculan karena ternyata banyak yang olahraga disana. Salah satu contohnya adalah ini

Serabi coklat Situ Babakan
Serabi coklat Situ Babakan

Selain topping cokelat, si Ibu penjual serabi juga nawarin topping oncom. Mmhh.. saya belum bisa ngebayangin rasa serabi itu kalo dicampur oncom. Jadi.. biar aman pesen yang cokelat aja deh :D Selain serabi, makanan khas Betawi lainnya yang banyak dijajakan tu seperti Laksa, Kerak Telor, Soto Betawi dan Ketupat Sayur. Saya sempat nyobain Laksa nya juga, tapi ko ya rasanya gimana gituh… jauh lebih enak laksa made in keluarga bapak saya :lol:
Disana juga ada penjual gulali yang biasanya dibentuk jadi bunga, burung-burungan, jajanan favorit saya waktu SD dulu.

Di area utama Cagar Budaya ini ada sebuah panggung yang biasa dipakai untuk pertunjukan tari atau lenong pada waktu-waktu tertentu. Dan kebetulan waktu saya kesana, ada rombongan guru (kayaknya sih guru deh) yang mayoritasnya berasal dari pecinan sana. Jadi berkesempatan nonton tarian yang entah apa namanya (Nah kan, ini salah satu buktinya kalo budaya Betawi semakin dilupakan. Lah wong saya yang turunan Betawi aja gak tau itu tarian apa! *narik napaas..* )

Apa namanya ya?
Tari “sumting”

Setelah itu saya berharap ada pertunjukan Jagoan Silat karena banyak para jagoan cilik yang berkumpul di sekitar situ. Tapi.. bak punuk yang merindukan bulan, pertunjukan itu tak kunjung ada. Hmmphhh.. akhirnya poto-poto ga jelas deh.

na na na

:mrgreen: mohon dimaapkan kalo poto-potonya ga jelas gitu. Harap maklum.

Kesimpulannya, Situ Babakan cukup menyenangkan untuk dikunjungi, wilayahnya masih cukup asri dan suasana kampungnya masih cukup terasa apalagi dengan kondisi jalan di seputar danau yang masih tanah dan batu-batu. Kata si Ibu penjual serabi, “Yah neng, jalanan kayak gini pas ujan mah udah pasti becek, debel dah!”
hahaha… You know what debel means? Debel is ketika alas kaki kita itu udah gak karuan gara-gara becek bin kubangan kebo itu. Biasanya alas kaki akan penuh tanah yang sangat tebal sampe-sampe kaki kita susah bergerak.
Cagar budaya ini juga cocok untuk generasi muda supaya pengetahuan kesenian&budayanya bertambah. dan satu lagi, di Situ Babakan juga bisa wisata kuliner ko! Enjoy!

-ciya-

Life, Sharing Info , , ,

Ke Bali gratisan! #Dilarang ngiri!# (Day2)

May 18th, 2009

Perjalanan keesokan harinya sungguh menguras tenaga namun menyenangkan. Kami berkesempatan mencoba sebuah objek wisata yang menurut tour guide kami hanya ada di Bali dan Hawai. Seawalker.
Sudah bisa dibayangkan kan apa yang akan kami lakukan pada objek wisata ini.. Yap! Para pengunjung akan melakukan perjalanan bawah laut dengan menggunakan sepatu karet dan sejenis helm astronot yang beratnya….. duh! Tapi gak akan terasa berat ketika kita sudah menyelam di air. Dari pantai, kami menaiki perahu motor kecil berkapasitas 8 orang untuk menuju titik selam yang berupa bangunan kecil mengapung di tengah laut. Pada bangunan itulah terdapat peralatan selam yang akan kami kenakan.

Boat untuk menuju lokasi seawalker
Boat untuk ke seawalker spot
Lokasi seawalker dari kejauhan
Lokasi seawalker dari kejauhan

Lokasi Seawalker ini terletak di daerah Sanur – Bali, di dalam sebuah hotel bernama Puri Santrian. Jadi, jika Anda ingin mencoba berjalan-jalan di dasar laut, coba kunjungi tempat ini.

Patung Hotel Puri Santrian
Patung Hotel Puri Santrian

Capek menyelam dan berjemur di pantai Sanur, kami masih ditunggu dengan sebuah petualangan lagi yang lebih menguras tenaga dan memacu adrenalin. Kami menuju Karangasem, daerah pegunungan di Bali yang memiliki sungai kecil dangkal berarus deras bernama Sungai Telaga Waja, selain tentunya sungai-sungai lainnya. Yap! We did Rafting !! akhirnya kesampean jg pengen rafting dari jaman dahulu kala..

Jalur sungai yang kami tempuh kurang lebih 16 kilometer dalam waktu 2,5 jam dengan 2 kali istirahat. Dalam jalur itu terdapat 2 jeram. Jeram pertama terlalu tinggi dan tidak ada kemiringannya, jadi pemandu kami tidak merekomendasikan para beginner ini untuk melewati jeram tersebut dengan perahu. Namun, kami diperbolehkan untuk merasakan menuruni jeram menggunakan perahu pada jeram yang kedua. Wiiii….!!!

Saatnya maen aer......
Saatnya maen aer……

Menyenangkan walaupun cukup melelahkan. Tapi kelelahan kami cukup terobati dengan jamuan dari Bali International Rafting – penyedia jasa kegiatan rafting – yang merupakan satu kesatuan paket layanan bagi para peserta rafting.

Dari Karangasem, kami menuju Sanur lagi untuk makan malam sekaligus menyaksikan tarian. Menurut saya, kelelahan dari pagi hingga sore hari tadi ditutup dengan sebuah acara makan malam yang kurang menyenangkan. Entah bagaimana ceritanya, penyelenggara wisata kami saat itu melakukan kerjasama dengan sebuah restoran yang menurut saya “sepi”. Hal itu terlihat dari kualitas layanan dan makanan yang disediakan. Namun, tari-tarian yang menemani kami malam itu cukup menghibur.

Penari Bali
Bali Dancer

Selesai makan malam, kami semua menuju hotel dan sesi belanja-belanja pun dimulai. Tak jauh dari tempat kami menginap ada pasar kecil yang menjual berbagai souvenir khas Bali. Jika tidak pintar-pintar menawar, kita bisa mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi dari yang semestinya. Saya rasa penjual disana menetapkan standar harga dengan $$$ deh…… Mentang-mentang banyak bule huehuehue…
Biasanya, penjual disana akan terlebih dahulu menanyakan asal daerah kita “Dari mana bu?”. Hampir semua penjual yang saya datangi menanyakan hal tersebut. Kemungkinan besar mereka memiliki standar harga tersendiri untuk daerah-daerah tertentu.

-ciya-

Sharing Info , , , , , ,

Ke Bali gratisan! #Dilarang ngiri!# (Day1)

May 17th, 2009

Berhubung cerita ini sudah hampir mirip novel yang gagal terbit, jadi saya akan membagi postingan ini menjadi 3 bagian. Semangat membacaa!! :D

Seorang “bos” yang baik hati semoga beliau gak nyesel berkenan membiayai acara penyegaran otak bwt saya dan temen-temen 1 tim (ber-8) di kantor. We were going to Bali, unfortunately for 2 days only.

Berangkat hari Jumat after office hour klo saya sih siang2 kabur, kami janjian di Bandara Soekarno-Hatta untuk sama-sama terbang dengan pesawat jam 18.45 yang tentu saja….. DeLaY.. sampe kami sempet arisan dulu.

Akhirnya pesawat datang juga, dan kurang lebih 1,5 jam kemudian kami mendarat di Bandara Ngurah Rai – Bali dan segera menuju hotel yang dituju, yang berlokasi kurang lebih 700 meter dari pantai Kuta. Ini hotel kami ketika malam hari :

Hotel tempat kami menginap

Hotel tempat kami menginap

Berhubung pesawat yang kami tumpangi itu menganut paham efisiensi, jadilah kami ini lapar selapar-laparnya ketika sampai di hotel dimana saat itu jarum jam hampir menunjukkan tengah malam Waktu Indonesia Bagian Tengah. Kami serombongan nekat menyusuri jalan sepanjang Kuta demi mendapatkan sesuap berlian nasi. Akhirnya…… ada sebuah titik terang di ujung jalan. Sebuah restoran!! McD.

Yah… sedih juga sih, jauh-jauh datang ke Bali ujung-ujungnya masa makan di McD :sad: Tapi kali itu McD memang menjadi penyelamat bagi keberlangsungan hidup beberapa anak manusia. Setelah kenyang dengan menu seadanya, kami pun kembali ke hotel dan… bobo :D

-ciya-

Sharing Info , ,